Delegasi AEKI pada ajang kopi internasional

AEKI-AICE · Hubungan Internasional

Empat Dekade Kopi Indonesia di Meja Dunia

Dari kantor perwakilan di London hingga kursi ketua ASEAN Coffee Club — jejak AEKI menjaga kepentingan eksportir kopi Indonesia di forum internasional.

1962Indonesia anggota ICO
1980Perwakilan London dibuka
4 kotaKantor perwakilan dibuka
2009AEKI pimpin ASEAN Coffee Club

Kantor Perwakilan Luar Negeri

Hadir Langsung di Pusat Perdagangan Kopi

AEKI membuka kantor perwakilan untuk menangani langsung persoalan yang berkaitan dengan kegiatan ICO sekaligus mengikuti tren pemasaran kopi di wilayah masing-masing. Keterbatasan anggaran kemudian menuntut penyesuaian, dan sebagian perwakilan ditutup.

1980
London

Dibuka terutama guna menangani permasalahan yang berhubungan dengan kegiatan ICO, selain mengikuti tren perkembangan pemasaran kopi di wilayah Eropa. Selama ini ditangani oleh Mr. DWH sebagai konsultan.

Masih berjalan
Februari 1991
New York

Dibuka pada Februari 1991 sebagai bagian dari perluasan tiga perwakilan baru AEKI di tahun tersebut.

Ditutup tahun 2000
Mei 1991
Hongkong

Dibuka pada Mei 1991, namun ditutup lebih dahulu karena anggaran yang semakin terbatas.

Ditutup tahun 1993
Juni 1991
Tokyo

Dibuka pada Juni 1991, melengkapi jangkauan perwakilan AEKI di kawasan Asia Timur.

—

Kerjasama Internasional

Indonesia di International Coffee Organization

Indonesia telah menjadi anggota ICO (International Coffee Organization) sejak organisasi tersebut dibentuk pada 1962, sebagai salah satu lembaga di bawah naungan PBB. Pemerintah RI telah menandatangani dan meratifikasi ICA (International Coffee Agreement) 1962, demikian pula ICA terakhir, yaitu ICA 2007 yang berlaku hingga 2012.

Dalam ICA 1962 tersebut untuk pertama kali ditetapkan penerapan sistem kuota mulai tahun 1963/64, dalam rangka mengendalikan keseimbangan antara suplai dan permintaan kopi.

Ringkasan Keanggotaan

1962ICO dibentuk; Indonesia menjadi anggota sejak awal
1962ICA ditandatangani dan diratifikasi Pemerintah RI
1963/64Sistem kuota pertama kali diterapkan
2007ICA terakhir yang diratifikasi, berlaku hingga 2012

ACPC · Association of Coffee Producing Countries

Upaya Negara Produsen Mengendalikan Suplai

Setelah ICO tidak lagi menjalankan sistem kuota, harga kopi menjadi semakin merosot. Negara-negara produsen termasuk Indonesia kemudian menempuh serangkaian upaya bersama untuk mengendalikan suplai.

199323 September

ACPC dibentuk

Negara-negara produsen kopi, termasuk Indonesia, sepakat membentuk ACPC (Association of Coffee Producing Countries) dan menerapkan sistem retensi untuk mengendalikan suplai, mulai 1 Oktober 1993.

199615 Mei

Sistem retensi dihentikan

Program ini ternyata tidak berjalan lancar karena banyak anggota belum siap, dan kemudian dihentikan.

19961 Juli

Diganti Program Ekspor

Sistem retensi diganti dengan Program Ekspor, di mana setiap anggota ditetapkan volume ekspor masing-masing. Program ini kemudian juga gagal, sehingga ACPC mencoba menerapkan kembali sistem retensi — yang akhirnya juga tidak berhasil.

200231 Januari

Sekretariat ACPC di London ditutup

Sekretariat ACPC di London ditutup, namun ACPC masih akan berfungsi sebagai forum koordinasi bagi negara-negara produsen kopi.

ASEAN Coffee Club (ACC)

AEKI Memimpin Forum Kopi Kawasan

Gagasan membentuk ASEAN Coffee Club (ACC) berkembang di sela-sela berlangsungnya “ASEAN National Focal Point Working Group on Coffee” pada 16 Juli 2009 di Thailand, setelah ada kesepakatan antara asosiasi-asosiasi kopi dari Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Dalam pertemuan tersebut Bapak Moenardji Soedargo (AEKI) telah dipilih menjadi Ketua ACC.

Dalam pertemuan ACC Jakarta pada bulan November 2009 — dihadiri delegasi dari Indonesia, Vietnam, Singapura, Filipina, dan Thailand — telah dibahas penyusunan program kerja.

ACC merupakan forum sektor swasta untuk menjalin kerjasama serta saling bertukar pengalaman di berbagai bidang industri kopi.

Pembentukan ACC sebenarnya juga pernah dirintis pada 1989 oleh Bapak Dharyono Keertosatro (Alm) selaku Ketua Umum BPP AEKI, khususnya dengan wakil-wakil dari Singapura dan Filipina, tetapi kemudian tidak berlanjut.

Tonggak ACC

1989Rintisan awal oleh Bapak Dharyono Keertosatro (Alm), Ketua Umum BPP AEKI
16 Juli 2009Gagasan ACC berkembang di Thailand; Bapak Moenardji Soedargo (AEKI) dipilih menjadi Ketua ACC
Nov 2009Pertemuan ACC Jakarta membahas penyusunan program kerja

Delegasi hadir di Jakarta: Indonesia, Vietnam, Singapura, Filipina, Thailand.

Pertukaran Bilateral

Studi Banding Bersama Vicofa, Vietnam

Sejak tahun 1980-an AEKI telah beberapa kali menerima kunjungan delegasi Vicofa (Vietnam Coffee & Cocoa Association) dalam rangka studi banding tentang budidaya dan pengolahan kopi, baik di perkebunan besar maupun perkebunan rakyat.

Kunjungan Vicofa ke Indonesia

Delegasi melakukan peninjauan di sentra-sentra produksi kopi:

  • Lampung
  • Sumatera Selatan
  • Sumatera Utara
  • Jawa Timur

Kunjungan Balasan AEKI

Sejak awal 1990-an AEKI juga telah beberapa kali melakukan kunjungan balasan ke Vietnam, dengan meninjau kebun-kebun kopi antara lain di Provinsi Dak Lak.

Tim Kerjasama Luar Negeri

Ingin Terhubung dengan Jaringan Ini?

Sampaikan kebutuhan Anda kepada Sekretariat AEKI — baik terkait forum internasional, informasi pasar negara tujuan, maupun peluang kerjasama dengan asosiasi kopi di kawasan.