Indonesia memiliki sentra produksi kopi yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara. Namun, produksi nasional tidak tersebar secara merata. Sebagian besar kopi Indonesia berasal dari beberapa provinsi utama, terutama di Pulau Sumatera.
Lalu, daerah mana yang menjadi penghasil kopi terbesar di Indonesia?
Berdasarkan data produksi tanaman perkebunan tahun 2024, Sumatera Selatan menempati peringkat pertama dengan produksi kopi sekitar 209,47 ribu ton, disusul Lampung sebesar 141,93 ribu ton dan Sumatera Utara sekitar 91,90 ribu ton.
Secara nasional, produksi kopi Indonesia pada data tersebut mencapai sekitar 807,58 ribu ton.
Berikut daftar lengkapnya.
Daftar 10 Provinsi Penghasil Kopi Terbesar di Indonesia
| Peringkat | Provinsi | Produksi Kopi 2024 | Kontribusi terhadap Nasional |
|---|---|---|---|
| 1 | Sumatera Selatan | 209,47 ribu ton | 25,94% |
| 2 | Lampung | 141,93 ribu ton | 17,57% |
| 3 | Sumatera Utara | 91,90 ribu ton | 11,38% |
| 4 | Aceh | 71,08 ribu ton | 8,80% |
| 5 | Bengkulu | 54,09 ribu ton | 6,70% |
| 6 | Jawa Timur | 48,05 ribu ton | 5,95% |
| 7 | Sulawesi Selatan | 30,63 ribu ton | 3,79% |
| 8 | Jawa Tengah | 26,92 ribu ton | 3,33% |
| 9 | Nusa Tenggara Timur | 25,83 ribu ton | 3,20% |
| 10 | Jawa Barat | 25,55 ribu ton | 3,16% |
Sumber: Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Perkebunan, data produksi tanaman perkebunan 2024. Data 2024 pada tabel tersebut merupakan angka sementara.
Sepuluh provinsi tersebut menghasilkan sekitar 89,8% produksi kopi Indonesia.
Yang menarik, provinsi-provinsi di Sumatera sendiri menghasilkan sekitar 604 ribu ton atau hampir 75% produksi nasional.
Ini menjelaskan mengapa Sumatera mempunyai peranan yang sangat besar dalam industri kopi Indonesia, terutama pada produksi Robusta maupun sejumlah origin Arabika terkenal.
1. Sumatera Selatan: Raja Kopi Robusta Nasional
Dengan produksi sekitar 209,47 ribu ton pada 2024, Sumatera Selatan merupakan provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia.
Jumlah tersebut setara dengan hampir 26% produksi kopi nasional.
Produksi kopi Sumatera Selatan banyak terkonsentrasi di kawasan dataran tinggi dan sepanjang Bukit Barisan. Beberapa sentra yang dikenal antara lain:
- Ogan Komering Ulu Selatan;
- Empat Lawang;
- Lahat;
- Muara Enim;
- dan Pagar Alam.
Kopi dari Sumatera Selatan didominasi oleh Robusta.
Besarnya produksi membuat provinsi ini mempunyai posisi penting dalam supply kopi nasional. Bahkan sebelum data 2024, Sumatera Selatan telah konsisten menjadi produsen utama; pada 2022 produksinya tercatat lebih dari 200 ribu ton.
Namun, volume produksi yang besar belum selalu diikuti dengan pengenalan origin yang sama kuatnya seperti Gayo, Toraja, atau Kintamani.
Ini menjadi peluang bagi pelaku industri untuk meningkatkan traceability, kualitas pascapanen, branding origin, dan nilai tambah kopi Sumatera Selatan.
2. Lampung: Pusat Industri Robusta Terintegrasi
Lampung menempati posisi kedua dengan produksi sekitar 141,93 ribu ton kopi pada 2024, atau sekitar 17,6% produksi nasional.
Lampung terutama dikenal sebagai salah satu sentra terbesar kopi Robusta Indonesia.
Sentra perkebunan kopi tersebar antara lain di:
- Lampung Barat;
- Tanggamus;
- Way Kanan;
- Lampung Utara;
- dan wilayah sekitarnya.
Lokasi Lampung juga strategis bagi perdagangan kopi karena dekat dengan infrastruktur pengolahan, pergudangan dan jalur ekspor.
Pemerintah Provinsi Lampung sendiri masih mendorong peningkatan produktivitas Robusta melalui pengembangan teknik budidaya dan inovasi perkebunan.
Dengan kombinasi produksi besar dan infrastruktur perdagangan, Lampung tetap menjadi salah satu wilayah paling penting dalam rantai pasok kopi Robusta Indonesia.
3. Aceh: Surga Kopi Arabika Gayo Berkualitas Dunia
Sumatera Utara berada di posisi ketiga dengan produksi sekitar 91,90 ribu ton pada 2024, atau sekitar 11,4% produksi kopi Indonesia.
Berbeda dengan Lampung dan Sumatera Selatan yang sangat kuat pada Robusta, Sumatera Utara juga terkenal sebagai salah satu sentra penting Arabika Indonesia.
Origin yang dikenal antara lain:
- Mandailing;
- Lintong;
- Simalungun;
- Tapanuli;
- Karo;
- dan Dairi.
Data BPS Sumatera Utara menunjukkan pada 2024 produksi Arabika di provinsi tersebut jauh lebih besar dibandingkan produksi Robustanya.
Karakter inilah yang menjadikan Sumatera Utara penting bukan hanya dari sisi volume tetapi juga dalam segmen specialty coffee.
4. Sumatera Utara: Rumah Kopi Mandheling Legendaris
Aceh menghasilkan sekitar 71,08 ribu ton kopi pada 2024, menempatkannya pada posisi keempat nasional.
Nama Aceh sangat erat dengan kopi Arabika Gayo.
Produksinya terutama terkonsentrasi di dataran tinggi Gayo seperti:
- Aceh Tengah;
- Bener Meriah;
- dan Gayo Lues.
Berbeda dari daerah produsen besar yang didominasi Robusta, kekuatan Aceh terletak pada Arabika dataran tinggi dan identitas origin yang kuat.
Karena itu, posisi suatu daerah dalam industri kopi tidak sebaiknya dinilai hanya berdasarkan jumlah tonase.
Aceh merupakan contoh daerah yang memiliki kombinasi produksi besar, diferensiasi origin, dan nilai pasar.
5. Bengkulu: Kopi di Bawah Naungan Hutan
Bengkulu berada pada posisi kelima dengan produksi sekitar 54,09 ribu ton kopi pada 2024, setara sekitar 6,7% produksi nasional.
Bengkulu sebelumnya juga tercatat sebagai produsen kopi terbesar kelima nasional. BPS Bengkulu mencatat produksi 2023 sekitar 55 ribu ton.
Sebagian besar perkebunan kopi Bengkulu merupakan perkebunan rakyat.
Beberapa wilayah produksinya berada di kawasan seperti:
- Kepahiang;
- Rejang Lebong;
- Kaur;
- Bengkulu Utara;
- dan Lebong.
Letaknya di sepanjang Bukit Barisan memberikan kondisi geografis yang mendukung pengembangan kopi Robusta maupun Arabika di ketinggian tertentu.
6. Jawa Timur: Inovasi di Lahan Vulkanik
Produksi kopi Jawa Timur mencapai sekitar 48,05 ribu ton pada 2024, menempatkannya di posisi keenam nasional sekaligus menjadi salah satu produsen terbesar di Pulau Jawa.
Sentra kopi Jawa Timur tersebar di banyak wilayah, antara lain:
- Jember;
- Bondowoso;
- Banyuwangi;
- Malang;
- Lumajang;
- dan kawasan Ijen.
Provinsi ini memproduksi baik Robusta maupun Arabika.
Keberagaman kondisi geografis membuat Jawa Timur mempunyai beberapa origin dengan karakter yang berbeda, mulai dari perkebunan dataran rendah hingga Arabika dataran tinggi.
7. Sulawesi Selatan: Keunikan Kopi Toraja
Sulawesi Selatan menghasilkan sekitar 30,63 ribu ton kopi pada 2024.
Data statistik perkebunan Sulawesi Selatan juga mencatat produksi 2024 berada di kisaran 30 ribu ton.
Walaupun volumenya jauh di bawah Sumatera Selatan atau Lampung, Sulawesi Selatan mempunyai kekuatan lain, yaitu reputasi origin.
Kawasan yang terkenal antara lain:
- Tana Toraja;
- Toraja Utara;
- Enrekang;
- dan beberapa daerah dataran tinggi lainnya.
Kopi Toraja menjadi salah satu nama origin Indonesia yang dikenal luas di pasar specialty coffee.
8. Jawa Tengah: Kopi Tradisional Berkualitas
Jawa Tengah berada di posisi kedelapan dengan produksi sekitar 26,92 ribu ton kopi pada 2024.
Produksi tersebar di beberapa kabupaten, dengan origin yang dikenal antara lain:
- Temanggung;
- Wonosobo;
- Banjarnegara;
- Semarang;
- dan kawasan pegunungan lainnya.
Jawa Tengah menghasilkan Robusta dan Arabika.
Khusus untuk Temanggung, karakter kopi daerah tersebut telah berkembang menjadi salah satu identitas kopi Jawa yang semakin dikenal.
9. Bali: Kopi Organik Kintamani
Nusa Tenggara Timur menghasilkan sekitar 25,83 ribu ton kopi pada 2024 dan berada di posisi kesembilan nasional.
Sebagian besar produksi kopi NTT berasal dari Pulau Flores.
Beberapa origin terkenal antara lain:
- Bajawa;
- Manggarai;
- Manggarai Timur;
- dan wilayah Flores lainnya.
Data pertanian NTT juga mencatat total produksi kopi 2024 sekitar 25,8 ribu ton, dengan Flores menjadi kontributor terbesar.
Karena itu, Flores mempunyai posisi penting dalam pengembangan Arabika specialty dari Indonesia bagian timur.
10. Nusa Tenggara Timur: Kopi Flores yang Eksotis
Jawa Barat melengkapi sepuluh besar dengan produksi sekitar 25,55 ribu ton pada 2024.
Ini merupakan salah satu perubahan penting dibandingkan artikel AEKI sebelumnya.
Bali tidak masuk ke dalam top 10 berdasarkan volume produksi 2024.
Produksi Bali tercatat sekitar 13,71 ribu ton, sedangkan Jawa Barat mencapai sekitar 25,55 ribu ton.
Jawa Barat mempunyai sejarah panjang dalam produksi Arabika, khususnya di kawasan Priangan.
Beberapa daerah penghasil kopi antara lain:
- Bandung;
- Bandung Barat;
- Garut;
- Sumedang;
- Sukabumi;
- dan wilayah pegunungan lainnya.
Origin seperti Java Preanger menjadi bagian penting dari sejarah sekaligus perkembangan specialty coffee Jawa Barat.
Penghasil Kopi Robusta Terbesar di Indonesia
Secara nasional, produksi Robusta Indonesia sangat terkonsentrasi di Sumatera bagian selatan.
Sumatera Selatan dan Lampung mempunyai posisi sangat besar dalam supply Robusta nasional.
Untuk tahun pemasaran 2026/27, USDA memperkirakan produksi Robusta Indonesia sekitar 10 juta karung dari total produksi sekitar 11,4 juta karung, menunjukkan dominasi Robusta dalam struktur produksi nasional.
Bagaimana dengan Arabika?
Produksi Arabika Indonesia lebih kecil dibandingkan Robusta tetapi mempunyai posisi penting dalam specialty coffee.
Beberapa sentra Arabika yang dikenal antara lain:
- Gayo di Aceh;
- Mandailing dan Lintong di Sumatera Utara;
- Java Preanger di Jawa Barat;
- Ijen di Jawa Timur;
- Toraja di Sulawesi Selatan;
- Kintamani di Bali;
- dan Flores di Nusa Tenggara Timur.
Untuk 2026/27, USDA memperkirakan produksi Arabika Indonesia sekitar 1,4 juta karung, sementara Robusta sekitar 10 juta karung.
Kesimpulan
Sumatera Selatan merupakan penghasil kopi terbesar di Indonesia, dengan produksi sekitar 209,47 ribu ton pada 2024.
Urutan lima besar adalah:
- Sumatera Selatan — 209,47 ribu ton
- Lampung — 141,93 ribu ton
- Sumatera Utara — 91,90 ribu ton
- Aceh — 71,08 ribu ton
- Bengkulu — 54,09 ribu ton
Provinsi-provinsi di Sumatera menghasilkan hampir 75% kopi nasional, menjadikan pulau tersebut pusat produksi kopi Indonesia.
Namun, volume bukan satu-satunya ukuran kekuatan industri kopi. Aceh, Toraja, Flores, Jawa Barat, Bali dan daerah lainnya mempunyai peranan penting dalam specialty coffee, diferensiasi origin dan nilai tambah.
Karena itu, posisi Indonesia di industri kopi dibentuk oleh kombinasi volume produksi besar, keragaman origin, Robusta, Arabika, dan jaringan petani serta perdagangan yang tersebar di berbagai daerah.
